my life… simple is complicated

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”

Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”
__________________________________________

Langkah pertama untuk memiliki pikiran seperti Yesus adalah dengan berhenti untuk berpikir seperti anak kecil, yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.
Bayi, secara alami, memiliki sifat egois.
Mereka hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.
Hal inilah yang disebut sebagai pola pikir anak-anak: “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” (Roma 8 : 5)

Rasul Paulus menulis, “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” (1 Korintus 14:20)

Langkah kedua untuk dapat berpikir seperti Yesus adalah dengan mulai berpikir matang, pikiran yang terfokus pada orang lain, bukan diri sendiri.
Dalam tulisan Rasul Paulus mengenai pengertian kasih, Rasul Paulus menyimpulkan bahwa pemikiran tentang kepentingan orang lain adalah tanda dari kedewasaan.
“Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11)

Saat ini, banyak berasumsi bahwa kedewasaan rohani seseorang dapat diukur dari seberapa banyak pengetahuan Alkitab dan doktrin yang ia ketahui.
Jika pengetahuan adalah suatu ukuran kedewasaan, maka hal tersebut bukanlah ukuran yang melingkupi segala aspek.
Kehidupan Kristen lebih dari sekedar kepercayaan dan keyakinan, namun tingkah laku dan karakter seorang Kristen juga termasuk di dalamnya.
Tingkah laku kita harus sesuai dengan pengakuan iman kita dan keyakinan kita harus didukung dengan perilaku Kristus.

Kekristenan bukanlah filsafat, tetapi merupakan suatu hubungan dan kehidupan di mana kita terus berlatih agar dapat lebih memikirkan orang lain dibanding diri sendiri, seperti yang dilakukan Yesus: “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2: 3-4)

Memikirkan satu sama lain merupakan inti dari pikiran Kristus dan tujuan dari pertumbuhan rohani kita.
Cara berpikir seperti ini adalah hal yang tidak wajar, bertentangan dengan kebiasaan kita selama ini, dan merupakan hal yang sangat langka.
Satu-satunya cara agar kita dapat belajar untuk berpikir dengan cara ini adalah dengan mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan.
“Kita tidak menerima roh dunia, tetapi Roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh” (1 Korintus 2:12-13)
__________________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
2 Samuel 9-11; Lukas 15:11-32
__________________________________________

Tingkah laku kita harus sesuai dengan pengakuan iman kita dan keyakinan kita harus didukung dengan perilaku Kristus.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s