my life… simple is complicated

Perspektif Baru tentang “sembarangan memukul” saya harap bisa menjadi evalausi bersama

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (1 Korintus 9:25-27).

Hari ini saya diingatkan lagi tentang bagaimana “belajar” adalah sesuatu yang penting, kadang dengan pikiran yang penuh dengan bahan yang sudah dipelajari kita berlenggang dengan leluasa ketempat yang dituju, dengan pikiran saya “tau” apa yang saya lakukan, padahal semua yang “akan” dilakukan bukanlah hasil dari pengalaman sediri, bukan kesimpulan empiris, kecenderungan untuk menjadi lupa dengan makna pelajaran pertama “menjadi pelajar” sangatlah besar..

Mempelajari tidaklah sama dengan memberikan penilaian-penilaian, menjadi pelajar untuk proses identifikasi memang adalah hukum yang wajib dilakukan, tapi saat “pergi praktek” apakah hal itu dilakukan? Atau yang kita lakukan adalah langsung mengamalkan apa yang baru dipelajari. Jadi dimana fungsi “menjadi pelajar”?? Maka tak heran jika selalu akan sulit untuk membangun hubungan..

Tak hanya itu…
Kadang atau mungkin selalu, tindakan pergi membuka pintu dengan sosial projek selalu dilakukan, tapi apakah setiap kali kedatangan hanya sampai di gerbang?

Apakah masih fokus dengan tujuan utama? Atau usaha berbuat baik saja yang notabene bisa dilakukan siapa saja. Atau ajang apa?

Saya dibukakan persepsi yang baru tentang ayat diatas, selama ini kata “sembarang memukul” memang telah diidentikkan dengan fokus, tapi sebenarnya dari sini bisa dilihat tentang maksud paulus memberikan kata itu, yaitu kita sering sembarangan memukul, bahkan selalu memukul, tapi apakah pukulan kita itu sudah benar mencapai target? Sudah berapa yang kena pukulan? Atau pukulan itu sudah tidak mempan, mungkin itu sebagian dari sembarang memukul dan tidak memiliki tujuan…

Kalaupun ada buah, apakah berkat yang terkumpul telah dipergunakan untuk hal yang memuliakan Tuhan? Atau dibiarkan terbuang tanpa hasil? Melakukan satukali dan meninggalkan berkali-kali, sampai kapan akan kembali, dan hanya sampai ke gerbang…

Setidaknya harus ada orang seperti saya dan beberapa orang yang menilai, tanpa membenarkan semua tindakan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk Tuhan dan tentu saja tidaklah ada yang sia-sia…

Tapi begitulah… Perlu ada gebrakan baru, tanpa menambah jumlah retakan dan pecahan, tapi membuat setiap pecahan menjadi indah dan mungkin suatu saat nanti masih bisa menjadi bejana keramik/kaca berwarna yang indah dengan perekat kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s