my life… simple is complicated

Sisi Lain Bencana ; Sebuah Ungkapan Sarkastik

https://www.evernote.com/shard/s261/sh/f0d6a351-b5c0-41d2-a5c1-93cd37e3767d/ba8395f383f177f885d8d767f8ae34d3

Sepenggal kisah kami dipengungsian

Nama saya ah.. sudahlah tidak penting, apalah arti sebuah nama ditimbang dengan peristiwa bahagia yang terjadi 15 Januari dikompleks saya tinggal..

Hari itu seperti biasa, saya pulang hampir pagi, sedikit mabuk dan mengulangi lagu-lagu yang dialunkan dalam acara organ tunggal sambungan dari makan-makan entah diawali dengan ibadah apa saya juga tidak mengerti..

Sudah sejak kemarin pagi awan kelabu dan rintik hujan tidak beranjak diatas awan kota kami, firasatku pasti rumahku yang tak jauh dari sungai tempatku buang hajat dan sampah rumah tangga, pasti akan kedatangan tamu penting guna bersilahturahmi, mengunjungi mata kaki kami seperti tahun-tahun yang lalu.. 

Senang bukan kepalang, saya yang sudah beberapa tahun terakhir ini memilih untuk menggantungkan hidup keluarga, biaya rokok dan miras kepada istri yang bekerja mencuci pakaian tetangga yang kaya dan raya, pasti akan ketiban rejeki..

Ya.. seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti akan ada begitu banyak perhatian dan bantuan untuk korban banjir, rumahku yang kutinggali saja merupakan hibah pemerintah saat menjadi korban 30 November belasan tahun silam, kalau sakit ya gampang tinggal pakai kartu jamkesmas yang juga pemberian ah tapi sebagai warga kota ini saya juga dijamin dengan perlindungan kesehatan semesta.. jadi untuk apa kerja jika bisa santai?

Kembali kehari bahagia itu, dikala kaki dan mata yang mulai berat mengidamkan bantal dan kasur, memasuki pintu rumah yang diganjal istriku dengan kursi plastik pembagian gereja di masa natal lalu, kembali firasat itu muncul.. terdorong oleh rasa dingin yang aneh.. tubuh ini pun terhempas ke petiduran, dan kepala bertatakan bantal kapuk ini serasa dunia berakhir disini.. dan mata ini lelap…

Masih terlalu pagi dan suara gemuruh istriku yang lelah seharian mencuci membangunkan tubuh setengah mabuk ini, “air…air..air sudah naik”,katanya dengan suara ketus dan membahana.. dan sontak saja, huruf terakhir dari kata-katanya membawa mata ini memandang tinggi air berarus yang sejari lagi mencapai petiduranku…

Panik, bahagia dan mulai bergegas mencari tempat yang lebih tinggi, angkut apa yang bisa diangkut… tali ah… bawa selimut dan HP cina ini saja nanti toh ada yang mengurus.. derap langkah semakin cepat mengingat air deras sudah mencapai paha, sempat tersandung batang kayu yang ikut hanyut, tapi dengan semangat yang tak patah bisa juga menggapai area yang lebih tinggi..

Dan secara resmi acara liburan dalam rangka mengungsi dari banjirpun dimulai…

Dan sepanjang hari itu listrik padam..

Di gedung pusat pengungsian, kupilih pojok yang ternikmat untuk ditinggali, kemudian menghitung jam kapan air akan surut dan bantuan akan datang… saya belum sempat sarapan waktu air sudah datang menghadang. dan alangkah girangnya saya ketika muka air bukannya turun malah menanjak seperti karir..

8 jam dan saya sudah bisa melihat dasar lumpur yang ditinggalkan banjir… benar-benar girang.. mengingat pemulihan semua ini pasti akan butuh waktu lamaa

Dan mulai hari itu saya sudah sembilan hari ditempat pengungsian ini..

Sudah dapat baju layak pakai lebih banyak dan lebih mahal dari koleksi pribadiku yang sengaja dihanyutkan bersama terjangan bandang, sudah makan sampai 5 kali sehari, diberi celana dalam baru, dihibur orang… bahagianya saya.. belum lagi dokter dan suster cantik yang merelakan dirinya dibawah paksaan atasannya untuk bekerja sebagai sukarelawan posko kesehatan penanggulangan banjir..

Hari ini sudah banyak yang pulang, berarti jatahku semakin banyak, dan hal ini setidaknya akan bertahan sampai bulan ini berakhir…

Tetanggaku mulai megeluarkan perabotannya yang penuh lumpur dan bau bangkai yang baru dikriditnya bulan yang lalu, dan saya… ya biarlah saya menikmati indahnya pengungsian ini, asi toch rumah saya mungkin sudah hanyut, dan pasti akan ada yang menggantinya, itulah gunanya pemerintah..

Tapi agak disayangkan juga motorku yang dibeli untuk tujuan menjadi tukang ojek tapi hanya dipakai untuk bisa mencapai tempat keramaian bersama teman-teman. Padahal motor itu dua tahun lagi lunas, tapi apa boleh dikata sudah terendam banjir dan tak bisa lagi dihidupkan, tapi tak apa juga lah, karna ini memasuki bulan keempat saya tidak membayar angsurannya…

Sekarang hampir waktunya makan siang, kucari istriku yang baru selesai mencuci pakaian dan perabot orang-orang kaya itu, kumintai dia uang untuk beli rokok dan segelas minuman keras untuk membangkitkan nafsu makan, dua lembar lima ribuan dikeluarkan istriku dari kutangnya, agak basah mungkin kena air atau cuma keringatnya..

Dan sampai saat ini saya masih senang, makan dan tidak perlu kerja, tidur saja, dan menikmati muka iba dari para donatur yang datang dari berbagai penjuru tanah air maupun dari tegangga batu angin…

Sampai sini dulu yan sepenggal kisah indah rupawan, tentang saya dan pengungsian… dan berharap ini akan berlangsung lama…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s